Senin, 06 Februari 2012

Taman Nasional Gunung Leuser

Selayang Pandang
Taman Nasional Gunung Leuser terbentang luas mengikuti gugusan pegunungan. bukit barisan dan merupakan kawasan konservasi yang memiliki perwakilan ekosistem lengkap, mulai dari hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan danau yang relatif masih utuh dengan kelimpahan satwa-satwa langka dan endemik. Potensi keanekaragaman hayatinya yang memiliki nilai konservasi global, UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Biosfer , dan Cluster Natural World Heritage Site ,  sedangkan Indonesia-Malaysia menetapkan kawasan Leuser sebagai Sister Parks dengan Taman Negara ( Nasional Park ) Malaysia.
Kawasan ini juga merupakan kawasan tangkapan air dan sumber air bagi banyak sungai-sungai besar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Sistem hidrologi kawasan ini secara keseluruhan merupakan sistem pengairan terpenting di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Karo dan Langkat.
Sejarah
Penunjukan kawasan Gunung Leuser sebagai kawasan konservasi memiliki sejarah yang sangat panjang, yaitu sejak jaman kolonial Belanda ;
-            Tahun 1934, Pemerintah Belanda menetapkan kawasan Suaka Margasatwa Gunung Leuser dengan luas 142.800 ha.
-            Tahun 1936, Pemerintah Belanda menetapkan suaka margasatwa baru, yaitu Suaka Margasatwa Kluet Aceh dengan luas 20.000 ha.
-            Tahun 1938, Kembali ditetapkan kawasan Suaka margasatwa Langkat di Sumatera Utara dengan luas 51.000 ha.
-            Tahun 1976, Pemerintah Indonesia menunjuk kawasan suaka Margasatwa Kappi di Provinsi Aceh dengan luas 142.000 ha.
-            Tahun 1980, Menteri Pertanian mengumumkan keempat suaka margasatwa tersebut di atas dan beberapa hutan wisata untuk dikelola sebagai taman nasional.
-            Tahun 1997, Taman Nasional Gunung Leuser ditunjuk dengan luas 1.094.692 ha.
Fisik
Geologi dan Tanah
Bagian utara kawasan Taman Nasional Gunung Leuser adalah pegunungan Leuser Simpoli yang terbentuk dari formasi Munkap mata-sedimen dan Glanalei  yang diperkirakan berasal dari periode Permo-Carboniferous dan baru sedikit mengalami pelapukan. Jenis batuannya antara lain Phylite hitam dan kelabu, metasilstone, meta-sandstone, fine graned quaatzite, dan marbble.
Jenis batuan yang terdapat di sekitar Lembah Alas, gugusan Bendara dan jalur Kluet - Rameh, antara lain guartzbiolite schists bended, gneiss, cucocratic, fine granular gneiss, amphibolete, banded dan massive marble .
Formasi Alas Barat diperkirakan berasal dari periode Nesozoic dengan jenis batuan blackshale to slate, siltstone, hard sand stone, minor grey wache, conglomerate, banded dan massive limestone dan dolomite, serta chert.
Tanah
Di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser minimal terdapat 11 (sebelas) macam jenis tanah. Tiga jenis tanah mendominir kawasan ini, yaitu kompleks podsolik coklat, podsolik dan litosol (38,41, kompleks podsolik merah kuning latosol dan litosol (31,97, dan andosol (13,76.
Jenis-jenis tanah tersebut mencakup organosol dan gleihumus, regosol, podsolik merah kuning (batuan endapan), podsolik merah kuning (batuan aluvial), regosol, andosol, litosol, podsolik merah kuning (bahan endapan dan batuan beku), kompleks podsolik merah kuning latosol dan litosol, kompleks podsolik coklat, podsolik dan litosol, serta kompleks resina dan litosol.
Topografi
Kawasan taman nasional berada di kawasan pegunungan yang berbukit dan bergelombang. Sebagian kecil saja areal yang berupa dataran rendah, yaitu di daerah Sekundur-Langkat di pantai Timur dan di daerah Kluet di pantai Barat. Berbagai elemen morfologi terlihat nyata, seperti rangkaian pegunungan dengan berbagai lipatan patahan dan rengkahan, gugusan bukit terjal dan bergelombang, gunung-gunung, kubah-kubah, dataran tinggi, plato, celah, lembah, jurang, lereng, dataran rendah, pantai, kompleks, dan aliran sungai dengan berbagai bentukan dan sistem pola sungai dengan cabang-cabangnya.
Di taman nasional ini sedikitnya terdapat 33 bukit atau gunung dan ada beberapa yang belum tercatat. Salah satu puncak tertinggi di sini adalah puncak Gunung Leuser, yaitu 3.149 m dpl.
Iklim
Beradasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson, termasuk tipe iklim A dimana musim kemarau terjadi pada bulan Maret s/d Agustus dan musim hujan pada bulan September s/d Februari. Curah hujan rata-rata berkisar antara 1.000 s/d 3.000 mm pertahun. Suhu rata-rata minimum berkisar antara 23 - 25 º C dan rata-rata maksimum 30 -33 º C, dan kelembaban udara relatif antara 65- 75
Hidrologi
Hidrologi di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dicirikan oleh sungai panjang, yaitu Sungai Alas dan oleh anak-anak sungai yang berhulu dari banyak gunung diantaranya Gunung Leuser, Gunung Kemiri, Gunung Bendahara, Gunung Parkinson dan lain-lain. Anak-anak sungai ini bermuara ke Samudera Indonesia ataupun ke Selat Malaka.
Secara geris besar terdapat beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) yang airnya berasal dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, yaitu DAS
- Bakongan, Krueng Kluet, Krueng Baro, Krueng Susoh, Krueng Batee dan Krueng Tripa.
- Krueng Tripa dan Lesten.
- Lesten/ Jampur/ Tamiang
- Sekundur/ Besitang, Sei Lepan, Sei Batang Serangan, Sei Musam, Sei Bohorok, Sei Berkail, Sei Wampu, Sei Bekular, dan Sei Bingei.
- Waihni Gumpang, Waihni Marpunga, Lawe Ketambe, Lawe Kompas, dan Lawe Bengkung.
Disamping keberadaan sungai-sungai tersebut di kawasan ini juga terdapat 2 (dua) buah danau kecil, yaitu Danau Laot Bangko yang terdapat di daerah Kluet (10 Ha) dan Danau Marpunga (6 ha) di daerah Marpunga. Beberapa lokasi air panas juga ditemukan disini, seperti di Lawe Geger (hutan lindung Serbolangit), dan Kappi serta lokasi air bergaram yang merupakan tempat pengasinan satwa liar (di Alas, Kappi dan Leuser, serta Muara Renun).
Biotik
Taman Nasional Gunung Leuser memiliki penyebaran vegetasi yang lengkap, mulai dari vegetasi hutan pantai/rawa, hutan dataran rendah, hutan dataran tinggi dan hutan pegunungan. Kawasan ini hampir seluruhnya ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae dengan beberapa sungai dan air terjun.
Vegetasi dominan adalah hutan tropis basah. Van Steenis membagi wilayah tumbuh-tumbuhan taman nasional ini atas 3 (tiga) zona, yaitu
-Zona Tropika (500-1.000 m dpl); Merupakan daerah berhutan lebat yang ditumbuhi berbagai jeinis tegakan yang berdiameter besar yang tingginya bisa mencapai 40 meter, serta berbagai jenis liana dan epifit yang menarik seperti anggrek.
-Zona Montane (1.000-1.500 m dpl); merupakan hutan montane dengan tegakan kayu yang tidak terlalu tinggi, yaitu berkisar antara 10 - 20 m, banyak dijumpai lumut yang menutupi tegakan kayu atau pohon, dengan kelembaban udara yang tinggi.
-Zona Sub Alpine (2.900 - 4.200 m dpl); merupakan zona hutan ercacoid yang tidak berpohon lagi, dimana vegetasinya merupakan campuran dari pohon-pohon kerdil dan semak-semak serta beberapa jenis tundra, anggrek dan lumut
Flora
Kawasan Gunung Leuser diperkirakan memiliki 3.000 s/d 4.000 jenis tumbuhan, terutama di hutan-hutan dataran rendah di bawah 300 m dpl, diantaranya terdiri dari jenis kayu komersial, pohon buah-buahan, rotan (74 jenis), palm, jenis tanaman obat, dan bumbu-bumbuan.
Kayu komersial dari famili Dipterocarpaceae terdapat 95 jenis, antara lain meranti, keruing, shorea, dan pohon kapur ( Dryoballanops aromatica ).
Pohon buah-buahan antara lain jeruk hutan ( Citras macroptera),  durian hutan ( Durio exeleyanus dan D. Zibethinus ), menteng ( Baccaurea montheyana dan B. racemosa ), dukuh ( Lansium domesticum ), mangga ( Mangifera foetida dan M. guadrifolia ), rukem ( Flacaourtia rukem ), dan rambutan ( Nephelium lappaceum ).
Jenis lainnya, antara lain rotan (74 jenis dan merupakan plasma nutfah penting bagi kawasan ini), palm daun sang ( Johannesteijsmania altifrons ) yang merupakan jenis yang hanya terdapat di daerah Langkat, tanaman obat-obatan (kemenyan dan kayu manis), beberapa jenis bunga raflesia ( Rafflessia cropylosa, R. atjehensis, R. hassetii), dan Rhizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan diameter 1,5 meter, serta berbagai tumbuhan pencekik (ara).
Fauna
Fauna di Taman Nasional Gunung Leuser terdapat 34 ordo, 144 famili dan 717 jenis dan 89 jenis diantaranya termasuk jenis satwa langka dan tidak terdapat di taman nasional lain. Beberapa satwa yang hidup di taman nasional ini, yaitu:
Mamalia; antara lain orangutan  (Pongo pygmaeus), serudung ( Hylobates lar), kedih (Presbytis thomasi), siamang ( Hylobates sindactylus), musang congkok (Prionodon linsang), kukang ( Nycticebus coucang ), kucing emas (Felis temmincki), pulusuan (Arctonyx collaris), bajing terbang (Lariscus insignis),  harimau sumatera ( Panthera tigris sumatrae), ajak ( Cuon alpinus ), harimau dahan ( Neofelis nebulosa),  beruang madu ( Helarctos malayanus),  gajah sumatera (Elephas maximus),  rusa ( Cervus unicolor ), kijang ( Muntiacus muntjak), badak sumatera ( Dicerorhinus sumatrensis ), kambing hutan (Capricornis sumatraensis),  tapir ( Tapirus indicus),
Burung; antara lain kuntul kerbau ( Bubulcus ibis), kuntul (Egretta sp), itik liar (Cairina sp), rajawali kerdil ( Microhierax spp ), rangkong ( Buceros bicornis ), julang ekor abu-abu ( Annorhinus gaeleritus), julang emas ( Rhiticeros undulatus), kangkareng ( Anthracoceros convextus), dan beo nias (Gracula religiosa).
Reptil; antara lain buaya muara ( Crocodilus porosus), penyu belimbing (Dermochelys sp), kura-kura gading ( Orlitia borneensis), dan senyulong ( Tomistoma sp).
Wisata
Lokasi-lokasi yang memiliki potensi wisata,yaitu :
Gurah ;  Melihat dan menikmati panorama alam, lembah, sumber air panas, danau, air terjun, pengamatan satwa dan tumbuhan seperti bunga Rafflesia, orangutan, burung, ular dan kupu-kupu.
Rehabilitasi orangutan Bohorok ;  Melihat atraksi orang hutan di tempat rehabilitasi orangutan dan wisata alam berupa panorama sungai, bumi perkemahan dan pengamatan burung.
Kluet ; Bersampan di sungai dan danau, trekking pada hutan pantai dan wisata goa. Daerah ini merupakan habitat harimau Sumatera.
Sekundur;  Berkemah, wisata goa dan pengamatan satwa.
Ketambe dan Suak Belimbing ; Penelitian primata dan satwa lain yang dilengkapi rumah peneliti dan perpustakaan.
Gunung Leuser (3.404 m dpl.), dan Gn. Kemiri (3.314 m dpl.) ; Memanjat dan mendaki gunung.
Sungai Alas;  Kegiatan arung jeram dari Gurah - Muara Situlen - Gelombang, selama 3 hari.
Atraksi budaya di luar taman nasional antara lain Festival Danau Toba pada bulan Juni di Danau Toba dan Festival Budaya Melayu pada bulan Juli di Medan.
Musim kunjungan terbaik : bulan Juni sampai Oktober.
Sarana dan Prasarana
Kantor, radio komunikasi, pusat informasi, guest house, bumi perkemahan, jalan setapak, menara pengamat, dan shelter.
Cara Menuju Lokasi (menggunakan kendaraan roda empat) ;
- Medan-Kutacane ± 240 km atau 5 jam,
- Kutacane-Gurah/Ketambe ± 35 km atau 30 menit,
- Medan-Bohorok/Bukit Lawang ± 60 km atau 1 jam,
- Medan-Sei Betung/Sekundur ± 150 km atau 2 jam,
- Medan-Tapaktuan ± 260 km atau 10 jam.
Pengelolaan
Taman Nasional Gunung Leuser dikelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Leuser sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Balai TNGL ini terbagi atas 4 Seksi Wilayah Konservasi, Yaitu ;
- Seksi Wilayah Konservasi Alas Gayo, di Blangkejeren,
- Seksi Wilayah Konservasi Aceh Selatan, di Tapaktuan,
- Seksi Wilayah Konservasi Langkat Selatan, di Bukit Lawang, dan
- Seksi Wilayah Konservasi Langkat Sekundur, di Besitang.  

Disarikan dari berbagai sumber.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar